Hercules (2014)

Perlukah satu lagi film wacana Hercules sehabis diawal tahun ini ada The Legend of Hercules yang gagal total baik secara kualitas dan finansial itu? Mungkin tidak, tapi dengan kehadiran sosok Dwayne Johnson yang mengakibatkan proyek ini sebagai salah satu passion terbesarnya terang film garapan Brett Ratner ini jauh lebih layak ditunggu daripada Hercules yang menampilkan Kellan Lutz. Mungkin sebagian dari anda sudah tahu atau mungkin mengikuti rangkaian latihan "gila" dan diet super ketat yang dilakukan oleh Dwayne Johnson selama kurang lebih delapan bulan untuk mempersiapkan kiprahnya dalam film ini. Sebuah totalitas yang tidak perlu diragukan lagi dan makin memperbesar daya tarik terhadap filmnya. Makara meskipun sosok Brett Ratner yang dulu hampir membunuh franchise X-Men lewat The Last Stand terasa kurang meyakinkan, kehadiran Johnson sedikit mengikis kekhawatiran tersebut. Filmnya dibuka dengan adegan Hercules yang tengah menuntaskan kedua belas misi berbahaya yang diberikan Hera dimana ia harus mengalahkan begitu banyak monster-monster berbahaya. Sebuah pembukaan yang menunjukkan tease akan hidangan agresi epic berbalut fantasi dan mitologi Yunani. Tapi kemudian muncul twist.

Film ini "melucuti" segala keajaiban mitologi Yunani kental milik kisah Hercules yang dipenuhi dewa-dewi dan makhluk asing dan menjadikannya jauh lebih realistis, lebih manusiawi. Hercules disini diceritakan ialah seorang prajurit bayaran yang mempunyai beberapa orang pengikut. Tapi berkat kisah-kisah fantastis yang diceritakan oleh sang keponakan, Iolaus (Reece Ritchie) lawan-lawan Hercules pun sudah ciut nyalinya sebelum berperang. Suatu hari Hercules menerima ajakan untuk membantu Lord Cotys (John Hurt) untuk membantu prajuritnya yang hanya terdiri dari para petani untuk bisa memenangkan peperangan melawan pasukan yang dipimpin Rheseus (Tobias Santelmann). Rheseus dan para pasukannya sendiri konon telah banyak melaksanakan pembantaian terhadap rakyat jelata. Hercules pun karenanya bersedia membantu prajurit Thrace dengan bayaran yang amat besar. Tapi disaat bersamaa Hercules yang perkasa itu ternyata menyimpan kelemahan dan kesedihan dalam hatinya akhir bencana yang ia alami di masa lalu.
Film ini tidak pernah sekalipun menyangkal atau membenarkan banyak sekali mitologi dari kisah Hercules. Disini tidak pernah diceritakan apakah Hercules memang benar-benar demigod putera dari Zeus atau bukan. Beberapa legenda lain wacana Hercules pun dibentuk ambigu menyerupai kisah 12 kiprah dari Hera. Hal ini memang berhasil menciptakan kisahnya terasa lebih segar. Cerita yang ditawarkan memang tidak baru, tapi twist tersebut sukses untuk menjauhkan kisah dalam film ini dari kesan pengulangan yang membosankan. Alhasil saya yang menonton film ini tanpa ekspektasi besar dan bersiap untuk menyaksikan kisah mitologi Yunani yang dihukum dengan datar pun dibentuk terkejut. Dalam artian positif tentunya. Tapi meski menunjukkan imbas positif bukan berarti perubahan tersebut berhasil seutuhnya. Menjadikan Hercules dan dongeng tentangnya menjadi lebih manusiawi memang bagus, tapi hal itu jadi terasa kurang maksimal ketika karakterisasi sang hero tidaklah diperkuat. Sentuhan drama dan tragedinya tidak cukup untuk menciptakan sosok Hercules jadi lebih berisi sebagai seorang karakter. Tapi setidaknya ada perjuangan dari naskah goresan pena Ryan J. Condal dan Evan Spiliotopoulos untuk menunjukkan Hercules karakteristik yang tidak terlalu dangkal.
Selain itu muncul hal ironis berkaitan dengan kekuatan Hercules. Sebagai anak Zeus kita bisa mendapatkan bagaimana ia mempunyai kekuatan yang luar biasa, tapi dengan menjadikannya sebagai seorang insan biasa Hercules justru jadi terasa terlalu kuat, apalagi sehabis filmnya menginjak klimaks. Ironis memang, sebab dua hal tadi justru menjadi problem akhir perjuangan film ini menciptakan kisahnya jadi lebih manusiawi yang notabene merupakan salah satu kelebihan utama di dalamnya. Karakter Hercules memang tetap kurang dalam meski terdapat suntikkan drama, tapi untungnya ada Dwayne Johnson disini. Johnson terang punya kemampuan akting yang tidak luar biasa, tapi dibandingkan banyak bintang film tabrak lainnya ia sedikit lebih baik. Hal itu mengakibatkan aksara yang kurang dangkal ini jadi tidak menggelikan. Selain itu kharisma dan badan penuh ototnya itu terang tepat menghidupkan sosok sekuat Hercules dalam film. Mungkin dalam porsi drama tidak terlalu baik, tapi dalam adegan agresi terang Johnson secara total menunjukkan hal terbaik yang bisa dibutuhkan penonton dari sosok Hercules.

Bicara adegan aksi, Brett Ratner terang piawai dalam mengolah hal tersebut. Bahkan dalam X-Men: The Last Stand yang mengecewakan itu ia masih sanggup menghadirkan titik puncak yang spektakuler. Hal yang sama terjadi disini. Meski segala mitologinya dilucuti yang berarti tidak akan ada monster-monster sebagai lawan Hercules, Ratner masih bisa mengemas adegan agresi yang ada dengan begitu menghibur. Tidak hingga skala yang epic memang, tapi masihlah sebuah hiburan yang amat mengasyikkan. Melihat Hercules dan teman-temannya yang punya keahlian berbeda-beda (khususnya Atalanta) beraksi di medan perang terang begitu menyenangkan. Sudah niscaya Hercules bukan hidangan luar biasa, tapi Brett Ratner sukses mengemas filmnya ini menjadi sebuah hiburan yang memuaskan dan tidak pernah mengendur tensinya. Kehadiran beberapa twist di dalamnya (meski bukan sebuah kejutan yang "cerdas") harus diakui berhasil menjaga intensitas filmnya. 

Belum ada Komentar untuk "Hercules (2014)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel