Yang Terucapkan Ketika Kita Mengucapkan Cinta

Tulisan berikut bukanlah sebuah review, bukan pula terkait film. Kali ini izinkan saya mempromosikan, beriklan wacana pertunjukkan drama musikal produksi Keluarga Rapat Sebuah Teater (KRST), tubuh acara mahasiswa di Fakultas Psikologi UGM yang telah menjadi bab penting hidup saya selama hampir tujuh tahun terakhir. Kebetulan, musikal berjudul "Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta" ini dibentuk menurut naskah goresan pena saya bersama dua orang lain selaku duet sutradara pementasan. Sebelumnya saya hendak bercerita seputar latar belakang serta sedikit membahas kandungan naskahnya.

Proses awal dimulai sekitar selesai 2015 sewaktu KRST tengah menentukan ketua gres (disebut Kepala Keluarga). Kita setuju ingin menciptakan pentas ringan, menghibur, dan bisa mewadahi minat mahasiswa seluas mungkin (aktor, tari, musik, tata lampu, make-up, kostum, properti, dan sebagainya). Karena itulah genre musikal yang belum pernah kami pentaskan pun dipilih. Saya mengajukan diri menulis naskahnya alasannya ialah merasa tertantang mencoba ranah baru. Sebelumnya sudah dua naskah karya saya dipentaskan. Surealisme ala David Lynch berjudul "Romantika dalam Gelap" (saya juga menyutradarai) dan "Keluarga Bahagia", sebuah drama soal keluarga disfungsional. 

Keduanya bernuansa gelap, mengandung pokok bahasan sensitif termasuk seksualitas. Maka dari itu, saya ingin sesekali mengeksplorasi jalur berbeda, dan musikal ringan, ceria pula mengusung kisah cinta dua sejoli sebagai sentral ialah pilihan tepat. Sekitar bulan Februari 2016, naskah usai, kemudian sempat mengalami sedikit pembiasaan oleh dua sutradara (Afra Imani Nasution dan Arswendi Dharmaputra). Judul "Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta" menerima ide dari koleksi cerita-cerita pendek "What We Talk About When We Talk About Love" (1981) milik Raymond Carver. Saya merasa tak ada judul lain untuk mewakili ceritanya yang banyak mengandung kegombalan tutur yang sekilas terdengar menggelikan, namun sejujurnya, memang kegombalan itulah yang terucapkan ketika kita dimabuk cinta dan ingin mengungkapkannya. 

Kisahnya sederhana saja, menyoroti pertemuan dua muda-mudi, Hendrik, seorang anak grup band yang kerap bertingkah seenaknya dan Nurlela, gadis berparas ayu yang sulit ditaklukkan hatinya. Cita-cita Hendrik untuk hidup dari musik menerima saingan keras dari sang ayah, sementara Nurlela yang gemar melukis berharap rutinitas membantu perjuangan jahit ibunya sanggup membantu mewujudkan mimpinya menjadi desainer. Keduanya perlahan saling jatuh hati tanpa menyadari ada gejolak tengah mengintai. Latarnya mengambil "sebuah negeri yang akrab dan mirip tanah daerah kita tinggal". Beberapa film memberi inspirasi, terutama "Sound of Music", "Aach...Aku Jatuh Cinta", dan "Singin' in the Rain". Para bintang film dan penari yang terlibat lebih banyak didominasi berasal dari angkatan 2015 dan 2016. Ya, darah-darah segar. Bukan renta bangka mirip saya. 

Pementasan digelar pada Sabtu, 4 Maret 2017 pukul 19:30 di Gedung Societet Militair, Taman Budaya Yogyakarta. Harga tiket sudah tertera pada poster di atas. Untuk isu lebih lanjut bisa hubungi contact person (Ninda: 081227155416, Besti: 081228475321) atau kolom komentar goresan pena ini. Jika "La La Land" masih menyisakan rasa haus akan kisah cinta berbalut nyanyian dan tarian yang menyenangkan, ringan namun romantis silahkan menonton "Yang Terucapkan Saat Kita Mengucapkan Cinta". Selamat bersenang-senang dan jatuh cinta. 

Belum ada Komentar untuk "Yang Terucapkan Ketika Kita Mengucapkan Cinta"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel