Star Wars: The Force Awakens (2015)

Here it comes, the most anticipated movie of the year. Bagaimana filmnya sudah memecahkan beberapa rekor Box Office bahkan sebelum tanggal perilisan merupakan bukti nyata. "Star Wars" memang bukan sekedar franchise. Tiap perilisan installment baru ialah event. A massive one. Tapi beberapa orang mungkin bertanya-tanya, kenapa "Star Wars" bisa begitu digandrungi. "It's just a blockbuster movie with generic story, right?" Pertanyaan itu mungkin sering anda dengar khususnya dari mereka yang menolak ikut bergabung dalam hype "The Force Awakens". Perlu diingat awal terciptanya film ialah untuk mewujudkan imaji penciptanya, merealisasikan imajinasi menjadi lewat pengalaman sinematik di layar lebar. Itulah yang dilakukan George Lucas 38 tahun lalu. Membawa penonton terbang berpetualang melintasi dunia baru, menemui bermacam-macam wujud alien, dan tentunya terlibat dalam perang bintang maha dahsyat...in a galaxy far far away.

Ber-setting 30 tahun pasca "Return of the Jedi", konflik kembali pecah antara kelompok Resistance dan First Order yang tak lain ialah suksesor dari Galactic Empire. Kedua belah pihak sama-sama melaksanakan pencarian terhadap Luke Skywalker (Mark Hamill), Jedi terakhir yang sekarang tidak diketahui keberadaannya. Narasi itulah yang tertulis pada opening crawl beriringkan scoring John Williams (both are iconic) yang bisa membuat saya (dan para penggemar "Star Wars") menteskan air mata sedari awal film. Kemudian kisahnya dimulai dengan perkenalan terhadap ketiga protagonis. Poe Dameron (Oscar Isaac) ialah pilot anggota resistance yang membawa peta sebagai petunjuk keberadaan Luke. Sebelum ia ditangkah oleh komandan First Order, Kylo Ren (Adam Driver), Poe telah memperlihatkan peta tersebut pada droid bernama BB-8. Dalam prosesnya, ia berhasil kabur berkat tunjangan Finn (John Boyega), Stormtrooper yang membelot sehabis menjadi saksi mata kekejaman First Order membantai rakyat sipil.

Finn dan Poe kabur menuju planet Jakku untuk mencari keberadaan BB-8. Sang droid sendiri ditemukan oleh Rey (Daisy Ridley). Rey akan dengan gampang mengingatkan kita pada Luke, sama menyerupai kemiripan Jakku dengan Tatooine (planet asal Luke). Keduanya sama-sama tinggal di planet gersang, mengumpulkan barang rongsokan untuk dijual, bahkan baju yang mereka kenakan pun mirip. Komparasi yang tidak mengejutkan, sebab Lucas sendiri menyatakan bahwa franchise ini mempunyai rima. Artinya tiap petualangan (baca: trilogi) akan menghadirkan kesamaan yang terus berputar. Demi menjaga "tradisi" sekaligus sebagai bentuk fan service (or tribute, whatever you called it), "The Force Awakens" punya banyak momen yang mengingatkan pada "A New Hope", juga sedikit pada "Empire Strikes Back". Mulai dari tema relasi ayah-anak dan guru-murid hingga detail adegan lain. Berkat arah dongeng gres serta kecermatan naskahnya melaksanakan penempatan, semua itu tidak terasa menyerupai kemalasan, melainkan membawa kembali memori kita hingga berujung pada tangis haru atau senyum lebar kebahagiaan.
Selain penghormatan tepat sasaran, keberhasilan terbesar juga berasal dari visi J.J. Abrams. Dia paham tujuan utama "Star Wars" ialah menyajikan space opera berisi petualangan tanpa batas penuh keseruan, bukan intrik politik membosankan menyerupai trilogi prekuel-nya. "The Force Awakens" persis memperlihatkan itu. Setiap set-piece aksi tidak asal bombastis tapi mempunyai "cool aspect" hasil imajinasi sang sutradara. Kamera bergerak dinamis, terbang kesana kemari menangkap apa-apa saja yang terjadi pada suatu pertempuran. Seperti ketika pesawat X-wing milik Poe menari-nari menghancurkan pasukan First Order, dikala pilot-pilot Resistance berusaha memusnahkan Starkiller pada klimaks, atau pertarungan lightsaber antara Rey dan Kylo Ren. Kesemuanya membuat saya bersorak kegirangan layaknya anak kecil tengah dibentuk kagum oleh kartun favoritnya. Mungkin porsi lightsaber kali ini tidak sebanyak biasanya, tapi begitu muncul, hadirlah adegan klimatik intens berkat pengadegangan apik. 

"The Force Awakens" turut menandai pertemuan antara tokoh generasi usang yang melegenda dengan wajah-wajah baru. Tidak sekalipun terjadi ketimpangan disaat huruf macam Finn dan Rey harus menyebarkan screen time dengan Han Solo (Harrison Ford) atau Leia (Carrie Fisher). Baik John Boyega maupun Daisy Ridley bisa mengimbangi seorang Harrison Ford dalam tukar barang obrolan yang banyak dibumbui sisi komedik. Hubungan antar-karakter amat menyenangkan, hidup dan lucu untuk disimak, namun juga hangat disaat bersamaan. Diluar sisi nostalgianya, siapa tidak tersentuh ketika Han dan Leia kembali bertemu? Dari Ford khususnya, nampak terang perubahan seorang badass anti-hero menjadi laki-laki yang luluh akhir kerinduan mendalam pada perempuan yang ia cintai. Tapi filmnya tidak lupa akan hakikatnya sebagai "awal baru". Meski Han Solo dan Chewie mencuri perhatian, fokus utama tetap pada Rey, and I really love her
Let's be honest. As a character, Rey is much better than Luke in his first movie. Disaat Luke dalam "A New Hope" ialah arif balig cukup akal doyan mengeluh hingga ke tingkat menyebalkan, Rey ialah perempuan besar lengan berkuasa yang semenjak awal bisa menghidupi dirinya sendiri. Bahkan ia bisa mengalahkan dua durjana sendirian, kemudian sanggup mengendarai Millenium Falcon. She's good at doing a lot of things. Dia hanya polos, belum mengetahui hal-hal di luar daerah tinggalnya. Dan berkat karakterisasi tersebut, gampang untuk mendukung Rey dalam perjalanannya menemukan luasnya dunia. Ketika kisah from-zero-to-hero bisa membuat penonton terikat akan karakternya, proses perkembangan jadi lebih berarti. 

Daisy Ridley menandakan diri sebagai pilihan tepat memerankan Rey. Gadis polos namun menyimpan kekuatan, kemampuan menangani momen komedik hanya lewat kalimat singkat atau ekspresi mikro, dan poin-poin lain sebagai keharusan untuk menghidupkan sosok Rey dimiliki oleh Ridley. Sedangkan Finn dan Poe berpotensi memperlihatkan relasi pertemanan dinamis yang telah disiratkan semenjak kerja sama keduanya di awal kisah. And of course there's Kylo Ren as the new villain. Sosoknya menarik, sebab berbeda dengan Darth Vader, ia masihlah cowok "berdarah panas", membuat konflik personal yang lebih rumit. Kylo Ren pun bukan villain dua dimensi dimana background story-nya menyisakan lebih banyak aspek untuk digali lebih dalam pada film-film berikutnya.

Sebagai suplemen kesempurnaan, "The Force Awakens" punya kemasan visual juara. Keputusan Abrams menggunakan lebih banyak practical effect daripada bergantung pada CGI -yang dilakukan George Lucas pada trilogi prekuel- memberi hasil positif. Seperti yang telah saya ungkapkan, tujuan film ini ialah membawa penonton pada imaji mereka. Untuk itu penonton wajib dibentuk sebisa mungkin meyakini segala hal di layar ialah nyata. Practical Effect-nya melaksanakan itu, dan CGI memberi polesan final guna menguatkan detail. Contohnya ialah BB-8 yang merupakan properti fisik. Hasilnya, BB-8 bukan semata-mata kepalsuan artificial. Dia tampak positif apalagi berkat sentuhan emosi dalam tiap kehadirannya. Turut memberi pesona ialah sinematografi garapan Dan Mindel. Dia bisa membuat saya merasa hanya sebagai bagian kerdil alam semesta kala melihat reruntuhan starship raksasa di tengah hamparan padang tandus atau penampakan masif Starkiller. Hal ini esensial dalam film yang mengeksplorasi petualangan di galaksi tanpa batas. Bukan hanya memberi keindahan visual, kita akan mencicipi takjub yang sama dengan Rey berkat gambar-gambar Mindel.

Overall, film ini memang bukan wujud kesempurnaan, tapi sebagai sajian blockbuster sekaligus penerus jejak sebuah franhise legendaris, "Star Wars: The Force Awakens" memenuhi segala syarat yang ada. Hiburan dengan intensitas terjaga yang melemparkan penonton menuju ambang batas imajinasi, membuat kita sejenak melupakan kepenatan yang menanti di kehidupan nyata. Itulah kegunaan yang mestinya bisa diberikan tiap big budget blockbuster dari Hollywood. Tapi tanpa melupakan hati, sebab saya sekarang terikat dengan tiap karakter, peduli akan perkembangan yang nantinya mereka lalui. Suntikan komedi juga diberikan dalam dosis tepat dan efektif memancing tawa. Bersiaplah dibentuk terpaku, sebab "The Force Awakens" mempunyai beberapa "WTF moment" mencengangkan, termasuk salah satu twist dengan daya kejut tidak berbeda jauh dengan Luke-I'm-your-father-twist yang memorable itu. Pada akhirnya, begitu film usai saya dibentuk antusias menunggu lanjutan petualangan yang telah dipersiapkan oleh Episode VIII dua tahun lagi. "Star Wars: The Force Awakensis the best blockbuster of the year (sorry, "Mad Max: Fury Road) and the second best "Star Wars" movie after "Empire Strikes Back". 

Belum ada Komentar untuk "Star Wars: The Force Awakens (2015)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel